Dan dalam kitab ihya ulum ad-din imam
Al-Ghazali berkata, Tauhid memiliki empat tingkatan yang terrbagi menjadi :
biji, inti dari biji, kulit, dan kulitnya kulit. Yang jika di perumpamakan
secara sederhana bagaikan buah kenari.
1.
Iman dengan ihsan semata saja yang di umpamakan
dengan kulitnya kulit. Iman seperti ini adalah iman orang munafik.
2.
Keimanan yang berupa mempercayai kalimat tauhid
dalam hati, seperti iman mayoritas kaum muslim yang awam.
3.
Keimanan yang disertai dengan penyaksian
terhadap makna kalimat tauhid dengan cara mukasyafah (penyingkapan)
melalui cahaya kebenaran. Iman seperti ini adalah maqam-nya orang-orang yang muqarrabin
(mendekatkan diri kepada Allah) yang dilakukan dengan cara melihat segala
hal, namun semua hal itu bersumber dari zat yang maha perkasa.
4.
Keimanan yang berupa melihat
semua wujud yang ada hanya sebegai satu wujud. Inilah tingkatan iman para shiddiqqin
(pencinta kebenaran) yang di peroleh dengan cara musyahadah (penyaksian).
Dan dalam istilah sufi, tingkatan iman di sebut dengan al-fana’ fi at-tauhid.
Jadi ia tidak melihat dirinya, namun batinya bersatu tenggelam dengan zat yang
esa. Inilah maksud dari ucapan abu yazid, “kemudia mengingat diriku sendiri
telah membuatku lupa.”
Untuk tauhid yang di jelaskan
dalam tingkatan pertama adalah tauhid yang hanya di ucapkan dengan lisan
semata. Hanya berguna untuk melindungi dirinya dari pedang, dan segala yang ada
padanya dirinya seperti harta dan darahnya terjaga. Maka pantas tauhid seperti
ini di sebut dengan tauhid orang-orang munafik karena dia memakai tauhid bukan
sebagai dasar kehidupan dan amalannnya akan tetapi hanya agar tidak tersakiti
ataupun terusik kehidupannya, karena dia hanya mengucapkan bahwa dia beertauhid
akan tetapi dalam hatinya jauh dari rasa ketauhidan. Orang seperti ini tidak
akan mengerti dan mendapatkan makna dari apa yang disebut hakikat.
Untuk tauhid tingkatan kedua,
orang tersebut meyakini dalam hati dan memahami betul makna dari kalimat tauhid
tanpa ada keraguan dan pembohongan sedikitpun, akan tetapi
sangat di sayangkan hati orang tersebut tidak lapang dan terbuka. Tingkatan ini
akan memelihara pelakunya dari azab akhirat jika dia meninggal dunia dengan
kondisi tidak melakukan dosa atau melakukan perbuatan maksiat terus menerus.
Karena dalam golongan orang yang bertauhid seperti yang ada pada urutan kedua
ini adalah orang yang begitu memahami dan mempercayai kalimat tauhid akan
tetapi ketika ada sesuatu dari dunia ini yang tidak sesuai dengan keinginannya
dia mencela, dia marah, dia menghujat dengan apa yang telah di berikan
kepadanya. Padahal sesuatu itu adalah yeng terbaik baginya yang di berikan oleh
Allah swt. Seperti imannya orang awam, yang mana di beri cobaan dia tidak
terima dan jika di beri kenikmatan dia melupakan kenikmatan itu datang dari
siapa.
Sedangkan Untuk tauhid
tingkatan ketiga, berarti hati pelakunya menjadi lapang dan meskipun banyak hal
di dunia tetapi dia hanya memperhatikan satu zat ia mnegetahui bahwa sumber
penyebab segala yang ada di dunia adalah zat yang maha esa yaitu Allah swt.
Untuk tauhid tingkatan keempat
berarti dalam penglihatan dan hatinya tidak tampak apa-apa lagi kecuali hanya
zat yang maha esa. ia tidak membutuhkan media apapun atau dirinya sendiri
sekalipun, karena ia tidak melihat berbagai hal sebagai sesuatu yang banyak
melainkan dalam pendangannya semua itu hanya satu. Inilah tingkatan tertinggi
daalam tauhid seseorang yang jika diperumanakan seperti minyak yang di hasilkan
oleh biji kenari, maka orang yang sudah bertauhid di tinkatan seperti ini akan
sudah sangat penuh hatinya dengan makna hakikat, karena layaknya minyak dia
akan berpisah dengan air walau mereka sama-sama benda cair. Begitu juga orang yang
bertauhid seperti ini akan memisakan dirinya dari pandangan dan perasaan dunia,
karena baginya semua itu bukan tujuan akan tetapi baginya tujuan yang
sebenarnya adalah zat yang maha esa yaitu Allah swt yang menciptakan pandangan
dan perasaan yang ada di dunia. Maka tida lain tiada bukan mereka sudah
mendapatkan hakikat.
No comments:
Post a Comment