Friday, January 20, 2017

Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al- Ghazali




Dan dalam kitab ihya ulum ad-din imam Al-Ghazali berkata, Tauhid memiliki empat tingkatan yang terrbagi menjadi : biji, inti dari biji, kulit, dan kulitnya kulit. Yang jika di perumpamakan secara sederhana bagaikan buah kenari.
1.      Iman dengan ihsan semata saja yang di umpamakan dengan kulitnya kulit. Iman seperti ini adalah iman orang munafik.
2.      Keimanan yang berupa mempercayai kalimat tauhid dalam hati, seperti iman mayoritas kaum muslim yang awam. 
3.      Keimanan yang disertai dengan penyaksian terhadap makna kalimat tauhid dengan cara mukasyafah (penyingkapan) melalui cahaya kebenaran. Iman seperti ini adalah maqam-nya orang-orang yang muqarrabin (mendekatkan diri kepada Allah) yang dilakukan dengan cara melihat segala hal, namun semua hal itu bersumber dari zat yang maha perkasa.
4.      Keimanan yang berupa melihat semua wujud yang ada hanya sebegai satu wujud. Inilah tingkatan iman para shiddiqqin (pencinta kebenaran) yang di peroleh dengan cara musyahadah (penyaksian). Dan dalam istilah sufi, tingkatan iman di sebut dengan al-fana’ fi at-tauhid. Jadi ia tidak melihat dirinya, namun batinya bersatu tenggelam dengan zat yang esa. Inilah maksud dari ucapan abu yazid, “kemudia mengingat diriku sendiri telah membuatku lupa.”
Untuk tauhid yang di jelaskan dalam tingkatan pertama adalah tauhid yang hanya di ucapkan dengan lisan semata. Hanya berguna untuk melindungi dirinya dari pedang, dan segala yang ada padanya dirinya seperti harta dan darahnya terjaga. Maka pantas tauhid seperti ini di sebut dengan tauhid orang-orang munafik karena dia memakai tauhid bukan sebagai dasar kehidupan dan amalannnya akan tetapi hanya agar tidak tersakiti ataupun terusik kehidupannya, karena dia hanya mengucapkan bahwa dia beertauhid akan tetapi dalam hatinya jauh dari rasa ketauhidan. Orang seperti ini tidak akan mengerti dan mendapatkan makna dari apa yang disebut hakikat.
Untuk tauhid tingkatan kedua, orang tersebut meyakini dalam hati dan memahami betul makna dari kalimat tauhid tanpa ada keraguan dan pembohongan sedikitpun, akan tetapi sangat di sayangkan hati orang tersebut tidak lapang dan terbuka. Tingkatan ini akan memelihara pelakunya dari azab akhirat jika dia meninggal dunia dengan kondisi tidak melakukan dosa atau melakukan perbuatan maksiat terus menerus. Karena dalam golongan orang yang bertauhid seperti yang ada pada urutan kedua ini adalah orang yang begitu memahami dan mempercayai kalimat tauhid akan tetapi ketika ada sesuatu dari dunia ini yang tidak sesuai dengan keinginannya dia mencela, dia marah, dia menghujat dengan apa yang telah di berikan kepadanya. Padahal sesuatu itu adalah yeng terbaik baginya yang di berikan oleh Allah swt. Seperti imannya orang awam, yang mana di beri cobaan dia tidak terima dan jika di beri kenikmatan dia melupakan kenikmatan itu datang dari siapa.
Sedangkan Untuk tauhid tingkatan ketiga, berarti hati pelakunya menjadi lapang dan meskipun banyak hal di dunia tetapi dia hanya memperhatikan satu zat ia mnegetahui bahwa sumber penyebab segala yang ada di dunia adalah zat yang maha esa yaitu Allah swt.  
Untuk tauhid tingkatan keempat berarti dalam penglihatan dan hatinya tidak tampak apa-apa lagi kecuali hanya zat yang maha esa. ia tidak membutuhkan media apapun atau dirinya sendiri sekalipun, karena ia tidak melihat berbagai hal sebagai sesuatu yang banyak melainkan dalam pendangannya semua itu hanya satu. Inilah tingkatan tertinggi daalam tauhid seseorang yang jika diperumanakan seperti minyak yang di hasilkan oleh biji kenari, maka orang yang sudah bertauhid di tinkatan seperti ini akan sudah sangat penuh hatinya dengan makna hakikat, karena layaknya minyak dia akan berpisah dengan air walau mereka sama-sama benda cair. Begitu juga orang yang bertauhid seperti ini akan memisakan dirinya dari pandangan dan perasaan dunia, karena baginya semua itu bukan tujuan akan tetapi baginya tujuan yang sebenarnya adalah zat yang maha esa yaitu Allah swt yang menciptakan pandangan dan perasaan yang ada di dunia. Maka tida lain tiada bukan mereka sudah mendapatkan hakikat.

No comments:

Post a Comment